Review Apple MacBook Air M3: Evolusi Tipis yang Tetap Memikat
Apple kembali menyegarkan lini MacBook Air mereka dengan chip M3, sebuah langkah yang, meski terasa iteratif, tetap memperkuat posisi laptop ini sebagai salah satu ultraportable terbaik di pasar. Diperkenalkan pada awal 2024, MacBook Air M3 hadir dalam dua ukuran—13 inci dan 15 inci—dan membawa janji performa lebih kencang, efisiensi daya yang superior, serta sedikit sentuhan baru pada formula yang sudah terbukti. Setelah menggunakannya selama beberapa minggu, saya akan mengupas laptop ini dari berbagai sudut: desain, performa, daya tahan baterai, layar, hingga nilai jualnya di tengah persaingan yang kian sengit. Apakah ini laptop yang layak Anda lirik di 2025? Mari kita bedah.
Desain: Elegansi yang Konsisten, tapi Tanpa Kejutan
Secara fisik, MacBook Air M3 adalah déjà vu dari model M2 2022. Apple mempertahankan desain slab aluminium yang ramping, meninggalkan bentuk wedge ikonik dari era sebelumnya. Dengan ketebalan 1,15 cm dan bobot 1,24 kg untuk model 13 inci (1,51 kg untuk 15 inci), laptop ini tetap menjadi juara dalam hal portabilitas. Finishing anodized pada varian warna Midnight diklaim lebih tahan sidik jari dibandingkan pendahulunya, dan memang ada sedikit perbaikan—tapi jangan harapkan keajaiban. Sidik jari masih terlihat, terutama jika tangan Anda sedikit berminyak.
Keyboardnya nyaman dengan travel key yang pas, sementara trackpad Force Touch yang besar tetap menjadi standar emas untuk presisi dan responsivitas. Portnya tidak berubah: dua Thunderbolt/USB-4 di sisi kiri, jack headphone 3,5 mm di kanan, dan MagSafe untuk charging. Keren, tapi agak terasa ketinggalan zaman ketika kompetitor seperti Dell XPS mulai menawarkan lebih banyak opsi konektivitas. Notch di layar, yang menampung webcam 1080p, masih jadi bahan perdebatan estetika—saya pribadi tidak terganggu, tapi beberapa rekan menyebutnya mengganggu.
Performa: Chip M3, Lompatan Kecil yang Berarti
Jantung dari MacBook Air M3 adalah chip M3, dibangun dengan proses 3nm yang menjanjikan efisiensi dan kekuatan lebih dibandingkan M2 (5nm). Dalam penggunaan sehari-hari—browsing dengan puluhan tab Chrome, streaming 4K, dan editing dokumen—laptop ini terasa gesit tanpa pernah memunculkan tanda-tanda lag. Benchmark menunjukkan peningkatan CPU sekitar 15-20% dibandingkan M2, tapi lompatan terbesar ada pada GPU: hingga 40% lebih kencang berkat fitur seperti ray tracing dan dynamic caching.
Saya mencoba mengedit video 4K di Final Cut Pro dengan konfigurasi 16GB RAM dan 512GB SSD. Proses rendering klip 5 menit selesai dalam waktu yang mengesankan, meski jelas kalah cepat dibandingkan MacBook Pro M3 Max. Untuk gaming, game seperti Lies of P berjalan mulus di 60 fps dengan pengaturan MetalFX aktif—bukti bahwa Air kini bisa diajak bermain lebih serius, meski bukan mesin gaming sejati. Satu catatan: model dasar dengan 8GB RAM (kini diganti 16GB sebagai standar per akhir 2024) terasa kurang untuk multitasking berat di 2025—puji syukur Apple mendengarkan keluhan pengguna.
Fitur baru yang patut disebut adalah dukungan dua layar eksternal (hingga 6K dan 5K) saat laptop ditutup, sebuah peningkatan dari batasan satu layar di M2. Ini sangat berguna untuk produktivitas, meski sayangnya layar internal jadi tak bisa dipakai bersamaan.
Layar dan Audio: Stabil, tapi Bukan Terobosan
Layar Liquid Retina 13,6 inci (atau 15,3 inci) tetap cemerlang dengan resolusi 2560x1664, 224 ppi, dan kecerahan 500 nits. Warnanya akurat (Delta-E < 2), cocok untuk editing foto ringan atau menonton film. Namun, di era OLED dan refresh rate tinggi yang ditawarkan kompetitor seperti Samsung Galaxy Book, layar IPS ini mulai terasa biasa saja. Audio dari empat speaker (enam di model 15 inci) masih impresif dengan dukungan Spatial Audio—bass-nya cukup kuat untuk ukuran laptop tanpa kipas.
Daya Tahan Baterai: Raja Ketahanan
Tanpa kipas, MacBook Air M3 mengandalkan efisiensi chip M3 untuk menjaga suhu dan daya. Dalam web browsing, Zoom meeting, dan sedikit editing laptop ini bertahan 15-16 jam dengan sekali charge, mendekati klaim Apple (18 jam). Ini jauh melampaui kebanyakan laptop Windows sekelasnya, seperti HP Spectre x360 yang biasanya mati di 10-12 jam. Charging via MagSafe atau USB-C dengan adaptor 35W juga cepat, meski port di sisi kiri saja agak membatasi fleksibilitas.
Posisi di Pasar: Masih Worth It?
Dengan harga mulai $1,099 (13 inci) dan $1,299 (15 inci)—kini dengan 16GB RAM sebagai standar—MacBook Air M3 menawarkan nilai yang solid. Namun, keberadaan MacBook Air M2 yang lebih murah ($999) dan diskon agresif di retailer membuatnya jadi alternatif menarik untuk pengguna kasual. Sementara itu, MacBook Pro M4 yang baru saja meluncur dengan performa jauh lebih tinggi ($1,599) menggoda para profesional. Di sisi lain, kompetitor seperti ASUS ZenBook dengan OLED dan Intel Core Ultra mulai menekan Apple dari segi inovasi layar dan harga.
( Harga dapat berubah sewaktu waktu)
Kesimpulan: Pilihan Aman yang Tetap Menggoda
MacBook Air M3 bukan revolusi, melainkan evolusi kecil yang memperhalus apa yang sudah bagus. Performa lebih baik, dukungan dual monitor, dan baterai luar biasa menjadikannya laptop idaman untuk pelajar, pekerja kantoran, atau kreator ringan.
Tapi, tanpa perubahan desain atau terobosan layar, ia terasa sedikit stagnan di tengah pasar yang bergerak cepat. Jika Anda upgrade dari Intel MacBook atau M1, ini adalah lompatan yang worth it. Tapi kalau Anda punya M2? Tahan dulu—atau tunggu rumor M4 Air yang kabarnya muncul pertengahan 2025.
Skor: 8,5/10
Kelebihan: Performa M3 solid, baterai tahan lama, portabilitas top, dual monitor support.
Kekurangan: Desain stagnan, layar IPS ketinggalan, port terbatas.